Rabu, 10 Februari 2016

Pulau Padamarang

Hari ini Sabtu, 6 Feb 2016 kami akan melakukan wisata ke Pulau Padamaran. Pulau yang biasanya hanya kami lihat dari Pomalaa.

Kami berangkat dari Pomalaa sekitar pukul 5 sore dan akan mengambil kapal menuju Pulau Padamarang di Kolaka. perjalanan dari Pomalaa ke Kolaka ditempuh kurang lebih setengah jam, sesampai di Kolaka kami langsung menuju dermaga tempat kami akan memulai perjalan selanjutnya. Kapal yang kami sewa 400rb untuk antar dan jemput, lumayan besar karena kami berangkat hanya ber 5 ditambah 3 orang kru kapal yang akan ke Pulau Padamarang untuk memancing ikan.
Perjalanan laut yang ditempuh sekitar 1 Jam 15 menit, waktu yang cukup lama. Tetapi akan dibayarkan dengan pemandangan yang indah. Hamparan lautan di depan mata dan perkotaan yang sedikit demi sedikit akan hilang. Tak ada rasa jenuh ataupun bosan dengan pemandangannya.


Waw.. sesampai di Pulau Padamarang, kami disambut oleh para penjaga pantai dan pengikutnya (anjing2) dan pemandangan di sana tidak kalah indahnya, jeng.. jeng.. akhirnya kami menginjakkan kaki ditempat ini. Hamparan lautan dan pasir putih di depan mata dan hutan yang rimbun di belakangnya.
Kami berencana untuk menginap sehari ditempat ini, sehingga barang bawaan kami lumayan banyak.

Hari mulai gelap sesampai kami disana,
Untuk masuk di Pulau tersebut harus menbayar 20rb per orang dan menyewa gazebo 50rb untuk semalam, harga yang ditawarkan sangatlah wajar.

Kami membawa ikan mentah untuk dibakar disana, tapi karena cuaca yang tidak mendukung dan tidak ada api unggun maka acara bakar2 ikan pinggir pantainya gagal, tetapi untung saja kami membawa kompor kecil.

Malam semakin larut disertai dengan hujan yang semakin lebat, dan malam itu rintik hujan memenuhi malam.

Pagi hari yang sejuk dipinggir pantai tak ramai, hanya ada kami.
Keindahan pantai itu lebih terpancar diterangi cahaya matahari.. Sungguh luar biasa ciptaan Tuhan.

Berkunjung ke Pulau Padamarang jangan lupa membawa banyak persediaan makanan, karena disana tidak ada penjual makanan, membawa senter dan powerbank. dan Jangan lupa untuk berkunjung ke puncaknya agar dapat melihat keindahan pulau padamarang yang sesungguhnya.






Senin, 07 Desember 2015

Karena kami anak rantau kemarin sore


Kesedihan yang sering dialami oleh anak rantau kemarin sore, yang hidup dikota besar kemudian berpindah ke tempat terpencil. Belum sepenuhnya bisa membaur dengan lingkungan. Masih ada bayang bayang gemerlapnya dan nikmatnya fasilitas ketika hidup dikota.

Merantau, entah untuk melanjutkan pendidikan atau bekerja akan mengalami masa-masa pancaroba, yaitu perpindahan dari kehidupan bersama keluarga ke kehidupan yang mengajarkan kemandirian.

Ada beberapa situasi yang sering membuat galau anak rantau kemarin sore seperti kami,

1.      > Malam di hari libur, biasanya menjadi malam yang panjang untuk hang out namun kini menjadi malam yang panjang untuk bermimpi.
Ketika esok hari libur, ingin rasanya menghabiskan waktu sampai larut malam untuk nongkrong di mall, nonton bioskop film mith night, karokean atau berbagai kegiatan yang bias any kami lakukan di kota. Tapi apalah daya kami yang merantau di tempat terpencil, malam hanya bertemankan suara kodok dan jangkrik.

2.      > Saat hujan gerimis seakan badai hati itu mengamuk,
Kesedihan tak kalah melanda ketika hujan mulai turun, awan yang gelap seakan membawa banyak kenangan yang datang. Biasaya di waktu seperti ini di rumah dahulu kami akan menghabiskan waktu untuk membuat cemilan dan kemudian dinikmati bersama keluarga sambil menonton TV, sambil bercanda dan berebutan canel tv kesukaan. Di rantauan ini hanya bisa menarik selimut, menutup muka dan mencegah kerinduan itu datang dan jikalau tak bisa menahan hanya berusaha untuk tidur lelap..

3.      > Di saat lapar, dahulu ada banyak pilihan tinggal tekan ini atau itu.. tinggal pilih
Dulu saat kelaparan di kota ada2 saja yang bisa diandalkan untuk membawakan makanan kalaupun tidak, ada delivery order 14022 atau 14035 dan masih banyak lagi , sekarang mau telpon siapa pos security di depan kantor. Hahaha…

Yah paling syukur kalau ada mie instan kalau persediaan mie pun habis, apalah daya .. nangis lagi…
4.      > Saat sakit, pelukan itu yang kubutuhkan
Keluarga merukapan andalan terbaik ketika sakit, namun diperantauan rasa sedih akan menyelimuti dirimu. Ibu adalah dambaat dan obat terbaik di saat seperti ini.

5.     > Saat teman mu tidak peka lagi terhadapmu
Hidup diperantauan akan mengajarkan mu beradaptasi dengan lingkungan baru, sehingga teman adalah harta terbaik yang kau miliki. Namun ada waktunya teman yang kau ingin minta bantuaanya tidak peka terhadapmu atau malah menolak mentah2 untuk membantumu. Siapa yang harus disalahkan ketika keadaannya seperti ini. Tak ada yang salah kawan mungkin dia hanya “Lelah” .

Kami anak rantau kemarin sore masih belajar untuk hidup diperantauan,
Kami anak rantau kemarin sore masih berusaha menghapus bayang bayang indah dunia kota dan fasilitasnya,
Masih mencoba belajar bertahan dari kerasnya hidup tanpa keluarga
Kami anak rantau masih belajar untuk tidak manja...




Rabu, 18 November 2015

Kesedihan Anak Rantau


Kolaka Utara
Tak pernah sekalipun membayangkan akan ada di tempat ini, Pomalaa-kolaka-Sulawesi Tenggara. 
Merantau … kata yang sejak dulu sudah terbiasa kudengar tetapi baru sekarang sekarang kurasakan.  Tinggal jauh dari keluarga dan sahabat, memulai kehidupan baru dengan lingkungan dan teman baru. 

Sekarang sudah 3 bulan saya ditampat ini menyangdang status sebagai anak rantau. Kadang perasaan rindu itu akan tiba2 tiba muncul di keheningan dan kegelapa malam.
Tiga bulan di tempat ini dapat teman baru, pengalaman baru, suasana baru, dan cerita kehidupan yang baru. Tak pernah sedikitpun terlintas bayangan untuk tinggal di kota ini “Pomalaa”. 
Kota kecil di daeah sulawesi tenggara, kota yang sangat mengagumkan. Jika kalian melihat kota ini begitu makmur dan damai. Di makassar tak pernah saya temui gunung dan pantai berseblahan, tapi di kota ini seperti itu. Disisi kanan gunung di sisi kirinya lautan, di depan lautan di belakangnya pegunungan.

Tempat wisatanyapun laut dan gunung. 

Disini sebenarnya bukan daerah terpencil, karena sudah terdapat bandara yang beroperasi setiap hari dengan 3 kali penerbangan perharinya. Tapi dalam lubuk hati yang terdalam saya masih merasa daerah ini terpencil.
Tak ada kendaraan umum yang banyak lalu lalang seperti dikota Makassar, kota metropolitan yang sangat kurindu.

Tetes air hujan yang turun di musim penghujan ini sepertinya tak hanya membawa hujan dan rasa dingin, tetapi membawa rindu dan kenangan.  Kehangatan akan kebersamaan keluarga dan sahabat kini jadi moment yang akan selalu kurindukan.  Hari libur yang ditunggu2 akan menjadi pengobat rindu yang ampuh untuk bertemu dan berbagi cerita.

Pantai harapan
Di kota ini aku akan melanjutkan perjalanan hidup dalam beberapa bulan atau mungkin bebrapa tahun atau puluhan tahun, semua hanya Allah yang tahu.
Rindu keluarga, sahabat, dan kekasih menjadi makanan setiap hari yang akan dirasakan sang anak rantau, jangan tanyakan ada berpa tetes air mata yang sudah mengalir, ada banyak cerita yang terpendam. Sebenarnya predikat anak rantau itu tidak mudah kawan.
Tetapi kekuatan dari sekitar, sesama anak rantau akan mengutkanmu sedikit demi sedikit, dan dari sinilah kau mulai belajar menjadi dewasa, menjadi seseorang yang mandiri. Dan kemudian hari akan menjadi anak rantau yang tidak cengeng lagi. 
Aamiin….